Senin, 08 Oktober 2012

REVIEW BUKU "DALIL ANFUS ALQUR'AN & EMBRIOLOGI


IDENTITAS BUKU

Sampul DepanData Buku
1.      Judul Asli            : Dalil Anfus Al-Qur’an & Embriologi (Ayat-            Ayat Tentang Penciptaan Manusia)
2.      Pengarang             : Muhammad Izzuddin Taufiq
3.      Penerbit                : Tiga Serangkai
4.      Tahun Terbit         : 2006
5.      Tempat Terbit       : Solo
6.      Tebal Buku           : 254 halaman


RINGKASAN (ISI BUKU)
Dalil Anfus dan Ayat Penciptaan
            Iman kepada Allah SWT merupakan rukun iman yang pertama di dalam akidah Islam. Oleh karena itu, iman kepada-Nya merupakan tujuan dari tanda-tanda yang ada pada diri manusia yang akan menunjukkannya. Tanda-tanda yang ada pada diri manusia ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian yang menunjukkan sifat penciptaan makhluk dan bagian yang menunjukkan hikmah penciptaannya.
            Ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan tanda-tanda yang ada pada diri manusia menunjukkan sifat penciptaan (makhluk) dan hikmahnya dengan dua cara berikut.
            Pertama, mengarahkan pandangan manusia ke semua bentuk asalnya (dari satu fase ke fase yang lain), kemudian mengarahkan pandangannya ke asal individu seseorang, dari awal sampai akhir.
            Kedua, mengarahkan pandangan manusia kepada dirinya sendiri, kemudian difokuskan pada beberapa anggota tertentu. Hal ini sangat jelas tertera di dalam beberapa ayat Al-Qur’an, seperti penggunaan kata khalaqakum, khalaqa lakum, ja’alakum, ja’ala lakum.
            Dua cara ini menggabungkan antara pandangan lengkap yang mengambil bentuk manusia secara keseluruhan dan pandangan yang difokuskan pada individu seseorang, bahkan yang difokuskan pada bagian-bagian di dalamnya.
            Ayat-ayat Al-Qur’an berbeda dalam ijaz dan tafsilnya, sebagiannya lebih jelas dari sebagian yang lain. Dapat dikatan bahwa kedua ayat berikut telah mencakup ayat-ayat penciptaan dan hikmahnya dengan seluruh pembahasannya.
Maka hendaklah manusia memerhatikan dari apa ia diciptakan.(QS Ath-Thariq:5) dan Maka hendaklah manusia itu memerhatikan makanannya. (QS Abasa:24)
            Ayat pertama meringkasa ayat-ayat yang memisahkan dalil-dalil penciptaan, dan hikmah penciptaan manusia, sejak awal sampai akhir. Ayat kedua meringkas ayat-ayat yang memisahkan dalil-dalil penciptaan, hikmah dalam anggota badan, dan tugas-tugasnya.
Ketika Al-Qur’an mengingatkan manusia dengan beberapa tahp penciptaannya, hal ini dimaksudkan untuk memngingatkan ibrah-nya yang besar, yaitu sesuatu yang dilupakan manusia hingga ia mengetahui tahap-tahap dan namanya.
Manusia lupa dengan ibrah (pelajaran) tahap-tahap penciptaan ini karena sebagiannya-seperti seperti pada fase janin dan kanak-kanak-belum hidup bersama. Setiap kali memasuki fase baru ia lupa terhadap fase sebelum. Oleh karena itu, Al-Qur’an menyampaikan fase-fase ini di depan pemikiran dan imajinasinya sehingga fase yang telah lalu, sekarang, dan yang akan datang berada pada satu pita yang terikat.
Jadi maksud Al-Qur’an bukanlah sekedar memberinya bekal penegtahuan untuk mengenal sehingga manusia melihat fase-fase itu pada dirinya sendiri dan yang lainnya. Akan tetapi, Al-Qur’an menghendaki ketika manusia membaca fase-fase penciptaaannya, ia dapat kembali mengingatnya dengan diikuti imajinasinya, lalu mengumpulkan antara teori susunan yang jelas yang terdapat pada ayat-ayat dan susunan yang terjadi sesungguhnya, sebagaimana ia melewati fase demi fase.
Ketika manusia mengamati ayat-ayat ini, ia akan merasakan bahwa ayat-ayat ini langsung ditujukan kepadanya. Fase-fase ini disebutkan dalam beberapa ayat dan secara jelas ada dua surat yang menyebutkannya secara rinci, yaitu Surat Al-Mu’minun dan Al-Mu’min (Ghafir).
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka mahasuci Allah Pencipta Yang Paling Baik. Kemudian sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat. (QS Al-Mu’minun: 12-16)
Dialah yang menciptakan kamu dari tanah dan kemudian dari setetes air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya). Dialah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah.”Maka jadilah ia. (QS Al-Mu’minun: 67-68)
Fase Tanah

 
Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah (QS Al-Mu’minun: 12)
            Pengertian ayat ini mempunyai dua pendapat. Pertama, kata insan pada ayat tersebut berartiAdam a.s., dan dikatakan sulalah karena ia berasal dari tanah. Pendapat ini berdasarkan mazhab Salman Al-Farisi dan Ibnu Abbas dalam riwayat Qatadah. Kedua, kata insan berarti anak Adam, sedangkan sulalah berarti nutfah yang berasal dari tanah, dan yang berasal dari tanah adalah Adam a.s. pendapat ini didasarkan pada pendapat Abu Shaleh dari Ibnu Abbas.
            Pemilik pendapat pertama mengatakan bahwa kata thin dalam Al-Qur’an kebanyakan digunakan untuk Adam a.s., sedangkan pemilik pendapat kedua mengatakan bahwa lafal insane dimaksudkan untuk menunjukkan jenis. Jadi, ketika bermkana anak Adam, kalimat itu memakai athaf (Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani) sehingga berbeda kalau lafal itu bermakna Adam karena taqdirnya tidak disebutkan, seperti dikatakan (Kemudian Kami jadikan ia). Oleh karena itu, kedua pendapat ini sama-sama kuat, dan inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.
            Ada pendapat lain (ketiga) yang menyatakan bahwa (sulalah min thin) menunjukkan sperma laki-laki dan ovum wanita. Keduanya berasal dari makanan berasal dari tanah. Inilah makna yang benar dan menunjukkan pada kenyataan.
            Dengan ketiga makna ini, ayat tersebut menunjukkan pada asal manusia pertama dan asal manusia secara langsung (setelah Adam). Keduanya berasal dari tanah. Adam dari tanah, sedangkan sperma (pertama) berasal dari Adam, dan sperma merupakan sari dari makanan, sedangkan makanan berasal dari tanah. Jadi, yang dikatakan dalam ayat Surat Al-Mu’minun dikatakan pula dalam ayat Surat Al-Mu’min.
Fase Nutfah

 
Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).(QS Al-Mu’minun: 13)
            Fase pertama merupakan awal penciptaan manusia dan awal penciptaan masing-masing individu manusia. Ayat ini diawali dengan kata pendek tsumma (kemudian)yang hanya membutuhkan beberapa detik saja untuk mengucapkannya. Akan tetapi, sudah berapa banyak nutfah yang ada sejak penciptaan Adam sampai awal penciptaan diri kita?
            Kata itu sangat pendek, tetapi maknanya sangat dalam menembus batas waktu, mulai dari setiap manusia sampai ke masa penciptaan manusia pertama, Adam a.s. dan kembali dari Adam a.s. sampai ke semua keturunannya.
            Kata tsumma pada ayat di atas menghubungkan antara awal penciptaan manusia dan awal penciptaan setiap individu manusia. Kata itu mencakup masa yang sangat panjang yang memisahkan individu manusia dari moyangnya-Adam-dan generasi yang ada di antara itu selama ratusan tahun.
            Proses penciptaan manusia tidak hanya berhenti pada fase nutfah, tetapi terus memanjang sampai ke masa anak cucu Adam hingga generasi seterusnya. Seseorang tidak akan tercantum dalam salah satu urutan anak cucu Adam jika tidak mempunyai ketersambungan dengan nama-nama sebelumnya.
            Allah berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari sulalah dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya nutfah di dalam tempat yang kukuh.” (QS Al-Mu’minun: 12-13)
            Nutfah yang dimaksud di sini adalah nutfah amsyaj yang terdiri atas unsur nutfah laki-laki dan perempuan. Laki-laki mengeluarkan sebagai nutfah dari tubuhnya agar keturunannya berlanjut setelah ia tiada, demikian juga perempuan. Mereka berperan dalam pembentukkan nutfah amsyaj itu dengan kadar yang seimbang.
Fase ‘Alaqah
Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah ….. (QS Al-Mu’minun: 14)
Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah …... (QS Al-Mu’min :67)
Ibnul Jauzi dalam kitab Zad Al-Masir berpendapat ‘alaqah adalah sejenis darah yang bergumpalan dan kental. Dikatakan juga karena sifat lembab dab bergantung pada periode yang dilaluinya.
Pendapat beliau mendekati kebenaran karena ‘alaqah memang bukan darah, melainkan sesuatu yang menyelam dalam darah. Pendapat kedua ini benar karena pada fase ini ‘alaqah menggantung pada dinding rahim.
Fase Mudhgah
Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain …. (QS Al-Mu’minun: 14)
            Mudhgah adalah sepotong daging tempat pembentukkan janin. Fase ini dimulai kira-kira pada minggu keempat. Setelah kapsul janin (embrio) terbentuk menjadi tiga tingkatan pada minggu ketiga, mulai terlihat ciri-ciri pertama susunan saraf dan aliran darah.
            Pada minggu keempat atau setelah dua puluh hari masa pembuahan, terlihan permulaan munculnya anggota-anggota tubuh terpenting. Oleh karena itu, ilmu kedokteran menyatakan bahwa minggu ini adalah awal pembentukkan anggota-anggota tubuh.
            Permulaan pembentukkan anggota tubuh ini dimulai pada hari kedua puluh dalam bentuk gumpalan daging kecil yang merupakan awal mula anggota tubuh dalam lapisan janin. Setelah muncul gumpalan berbentuk badan, janin mulai terlihat seperti mudhgah kecil dan menyerupai sesuatu yang dikunyah yang terdapat pada bekas gigi.
            Inilah keistimewaan-keistimewaan terpenting pada minggu keempat. Oleh karen itu, minggu ini dianggap sebagai awal pembentukkan anggota-anggota tubuh. Selama fase ini janin berbentuk seperti mudhgah (segumpal daging).
Fase Tulang dan Daging
… Dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging …. (QS AL-Mu’minun: 14)
            Al-Qur’an telah menamakan tiap-tiap fase sesuai dengan kejadian terpenting yang terdapat pada tiap fase. Pada fase ini-secara umum-merupakan permuulaan pembentukkan tulang dan perbedaannya dengan mudhgah, sebagaimana fase sebelumnya yang secara keseluruhan adalah munculnya gumpalan daging kecil. Pada fase selanjutnya, tulang tersebut dengan otot-otot.
            Sekalipun proses yang terus berkelanjutan antara munculnya gumpalan daging, permulaan tulang belulang, dan pembunhgkusannya dengan otot-otot serta tercapainya semua itu dalam waktu singkat selama minggu keempat, tetapi buku-buku kedokteran tidak membedakan antara fase mudhgah, tulang dan daging (otot). Buku-buku kedokteran hanya menyusunnya dengan standar minggu dan hari, serta membagi fase pertumbuhan janin menjadi dua, yaitu fase janin (embrio) dan fase kehamilan (fetus).
            Setelah kita ikuti urutan terjadinya perubahan-perubahan selama minggu keempat sesuai dengan ilmu kandungan, kita temukan kesesuaian urutan-urutan tersebut dengan urutan dalam Al-Qur’an tentang hal ini lebih akurat.
Fase Penciptaan Makhluk yang Berbentuk Lain
….
 










… Kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. (QS Al-Mu’minun: 14)
            Ayat ini mengisyaratkan pada janin tentang perkembangannya di bulan keempat dan setelahnya. Sebagaimana pemakaian predikat “fakasauna” (Kami bungkus dengan daging) pada ayat sebelumnya, ayat ini juga benar-benar cermat dalam pemakaian predikat “ansya’nahu” (Kami jadikan dia). Kata “insya” berarti menciptakan sesuatu dan memeliharanya. Masa pencitaan telah terjadi pada periode sebelumnya. Oleh karena itu, periode ini adalah periode pemeliharaan dan penumbuhan janin yang telah tercipta. Setelah menggunakan kata “ansya’nahu” dengan keakuratan dan kecermatan yang sama, ayat ini juga memakai kata “khalaqan akhar” (makhluk yang berbentuk lain). Pengungkapan seperti ini merupakan pengungkapan teringkas dan dapat memberikan gambaran yang dalam serta tepat mengenai keadaan janin ketika tumbuh.
            Perubahan-perubahan baru yang terjadi pada periode ini mempunyai dua sisi.
1.        Dapat dipantau oleh ilmu eksakta dengan berbagai peralatannya, yaitu perkembangan yang tampak pada janin ketika telah mendapatkan karakter kemanusiaannya yang telah terlihat jenis kelaminnya serta mulai bergerak.
2.        Dibawa oleh wahyu, yaitu peniupan roh di dalamnya.
Peniupan roh adalah puncak dari persiapan-persiapan jasmani yang terjadi pada janin untuk memberikan sifat-sifat manusia kepadanya. Dengan peniupan roh ini, selesailah fase terakhir dari fase-fase pembentukkan janin-dengan badan dan rohnya-sebagai (makhluk yang berbentuk lain”, yang berbeda dari makhluk hidup yang lain. Peniupan roh dapat dikatakan sebagai peresmian bahwa janin benar-benar telah menjadi “makhluk yang berbentuk lain” meskipun persiapan itu telah dimulai sejak periode penciptaan segumpal daging. Sebagaimana diketahui setiap periode tidak dilepaskan oleh janin hingga ia mendapatkan semua unsur asasinya. Sifat-sifatnya pun dapat terlihat dominan padanya.
Isyarat yang ditunjukkan dalam ayat tersebut juga mencakup penyempurnaan badan dan akal sehingga dapat menambah perbedaan antara bayi-bayi yang lahir. Ayat ini merupakan fase terakhir yang disebutkan Surat Al-Mu’minun. Setelah itu datang ayat, “Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.” Ini berarti ayat “Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk lain” mencakup masa yang ada antara peniupan roh dan kematian. Pada Surat Al-Mu’min disebutkan secara rinci tentang fase-fase tersebut, sebagaimana yang akan kita bahas nanti.
Masa Kanak-Kanak
….. sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak …. (QS Al-Mu’min: 67)
                Maksud ayat tersebut adalah mengeluarkan manusia dari rahim ke dunia sebagai anak-anak.
Masa Dewasa

…. Kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa)…. (QS Ghafir :67)
            Para ahli tafsir berselisih mengenai makna mengenai makna kata asyudd. Sesuai dengan urutan ayat Al-Qur’an, kata asyudd adalah masa yang dimulai dari akhir masa kanak-kanak sampai dengan permulaan masa tua. Ayat Al-Qur’an menyebut masa asyudd di anatara keduanya.
            Masa dewasa adalah masa saat seseorang sedang dalam puncak kekuatannya. Dengan mulainya masa dewasa ini, pembebanan syariat pun dimulai. Oleh karena itu, ayat Al-Qur’an dalam surat Al-Hajj menyebutkan tentang kematian sebelum dan sesudah saat itu. Ayat itu juga menyebutkan kata nukhrijukum (Kami keluarkan kamu) dan kata nuqirru (Kami tetapkan) tanpa huruf lam (yang berarti “agar”), sedangkan kata litablughu (agar kamu sampai) tertulis dengan “lam”. Ini menunjukkan bahwa tujuan dari penciptaan adalah agar kalian sampai pada umur dewasa sehingga kalian dibebani dengan syariat dan diuji. 
Masa Tua
….. Kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua … (QS Al Mu’min: 67)
            “Tua” berarti saat manusia telah mencapai umur tua dan dipanjangkan umurnya sampai pikun. Tua tidak memiliki batasan umur tertentu, tetapi tua adalah hal yang sudah umum diketahui manusia.
Anggota Tubuh dan Tugas-Tugasnya
            Ayat-ayat al-Qur’an-pada bab satu-menjelaskan penciptaan dalam periode-periode yang besar serta menunjukkan hikmah dan urgensi yang terkandung di dalamnya secara komprehensif dan global.
            Sekarang kita akan membahas ayat-ayat Al-Qur’an yang memaparkan penciptaan serta hikmah yang tersebar dalam tubuh manusia, terlepas dari periode-periodenya.
Sisi Tak Sadar
Dalam tubuh manusia, kita dapat memerhatikan pembagian tugas yang sangat teratur, bahkan melampaui keteraturan pembagian tugas dalam suatu tatanan masyarakat yang telah teratur. Pembagian tugas ini berkaitan dengan susunan sel. Kita menamakan kumpulan sel-sel yang tersusun dalam suatu susunan khusus dan mempunyai tugas fisiologis tertentu dengan nama jaringan.
Suatu organ tubuh dapat memiliki bermacam jaringan sehingga tugas yang ada di dalamnya bermacam-macam. Adakalanya tugas yang dilakukan itu rumit sehingga harus dilakukan dengan bantuan lebih dari satu organ. Keterkaitan antara tugas-tugas tubuh dan organnya sangat kompleks. Hal ini menjelaskan rumitnya proses penciptaan di dalam rahim dan tepatnya keterkaitan penciptaan tiap organ, tiap jaringan, dan tiap sel pada masa pembentukkan.
Apabila kita melihat organ-organ tak sadar, misalnya, kita akan mendapatkan organ-organ itu saling melengkapi dengan tujuan untuk memberikan dua hal penting kepada tubuh. Pertama, memberikan semua unsur asasi dalam kehidupan yang memungkinkannya untuk terus hidup. Kedua, memberikan kemungkinan pada organ-organ bawah sadar untuk melakukan gerakan-gerakan bebas yang berjalan di bawah intruksi otak dan kemauan.
Untuk mewujudkan kedua hal ini, kita melihat bermacam proses yang menjelaskan usaha keras yang menakjubkan yang di keluarkan oleh organ-organ tak sadar ini serta menjelaskan “integritas” yang menjadi ciri khasnya ketika ia melakukan tugasnya. Tubuh yang memberikan sekumpulan tugas pada satu organ tidak memberikan tempat bagi organ-organ yang tidak memiliki peran dalam tugas itu. Setiap organ tubuh atau jaringan diberi hak untuk mendapatkan makanan dan perlindungan selama ia masih menjalakan tugas yang bermanfaat bagi tubuh.
Perbedaan Tugas Jaringan
Dalam membahas rahasia keragaman tugas jaringan, para peneliti-pada saat ini-lebih cenderung membahasnya pada  gen-gen yang tersembunyi di dalam inti setiap sel. Mereka berpendapat bahwa penafsiran mengenai perbedaan tugas jaringan-jaringan kembali pada perbedaannya dalam proses kontruksi dan proses asimilasi. Penjelasan mengenai kedua proses itu dimulai dari gen-gen ini. Organ-organ tubuh dapat diibaratkan sebagai kumpulan-kumpulan besar dari sel. Sel-sel ini pada intinya merupakan laboratorium-laboratorium yang digunakan dalam pembuatan protein. Protein yang dibuat di dalam sel ini terbagi menjadi dua, yaitu protein konstruksi dan protein asimilasi, yang dinamakan juga dengan enzim. Protein pertama bertugas memperbarui sel-sel tubuh, sedangkan yang kedua mempunyai tugas dalam proses-proses biologi di dalamnya.
Nutrisi
          Manusia hendaknya memerhatikan makanannya agar dapat mengambil manfaat dan pelajaran darinya pada setiap periode, baik ketika telah siap untuk dimakan maupun ketika telah siap untuk diproses dalam tubuh untuk digunakan. Setiap makanan menyeru manusia untuk merenungkan dua periode yang dijalaninya, yaitu ketika di luar tubuh dan di dalam tubuh.

Organ Pencernaan
            Organ pencernaan dibagi menjadi dua bagian. Pertama, saluran pencernaan yang dipakai sebagai tempat berlalunya makanan. Kedua, kelenjar-kelenjar tambahan yang ikut mencerna makanan secara kimia.
            Adapun organ-organ pencernaan yang terlibat secara langsung yaitu meliputi: mulut, esophagus, lambung, usus besar, usus halus, dan berakhir di anus.
Penyerapan
            Proses penyerapan adalah proses akhir dari kerja berat yang dilakukan oleh saluran pencernaan bersama organ-organ sekunder di dalam pencernaan. Oleh sebab itu, serabut-serabut “memberikan penghargaan” atas usaha ini. Serabut-serabut itu menyerapnya dengan penuh ketelitian, hanya 5% dari lemak dan 15% dari protein yang dapat lolos.
            Penyerapan dapat dipandang sebagai proses fisiologis yang sangat rumit, khususnya pada mekanisme penyerapan zat-zat yang berlainan itu tidak sama. Proses penyerapan ini dilakukan melalui kontraksi-kontraksi berkala yang dilakukan oleh serabut-serabut. Ketika serabut berkontraksi, kandungan pipa-pipanya tertekan sehingga ia mendorongnya ke pembuluh darah dan pembuluh limfa yang lebih besar. Saat beristirahat, mater-materi makanan kembali masuk menuju pembuluh-pembuluh kecil ini.
Organ Peredaran
            Makanan yang telah terserap sari-sarinya masuk ke dalam pembuluh darah, lalu terdorong dengan kuat ke dalam suatu tempat tertutup yang di dalamnya beredar cairan yang dinamakan darah.
Unsur-Unsur Pembentuk Darah
            Darah adalah cairan merah agak asin dan mempunyai ciri-ciri alkali. Rata-rata, manusia mempunyai lima sampai enam liter darah, atau sama dengan 1:13 berat tubuhnya.
            Darah dibentuk dari benda cair yang dinamakan plasma dan dari sel-sel darah, yaitu sel-sel darah merah dan putih serta dari lempengan darah. Plasma berjumlah 58% dan sel darah merah berjumlah 42%.  Plasma adalah cairan berwarna kuning cerah (warna darah dihasilkan dari sel-sel darah merah). Susunannya sangat rumit karena mengandung semua materi yang ikut membentuk jaringan tubuh.
Organ Pernapasan (Peredaran Kecil)
            Perjalanan kita bersama makanan yang terserap masih berlanjut meskipun kita telah meninggalkannya dalam keadaan telah berjalan selaras di dalam peredaran darah. Agar dapat menyaksikannya terbakar di dalam jaringan-jaringan otot, kita harus mengantar darah ke paru-paru untuk melihat bagaimana oksigen yang cukup akan di datangkan ke sana untuk pembakaran ini.
            Kita tinggalkan darah saat ia berjalan dari bilik jantung bagian kanan menuju pembuluh paru-paru agar kita dapat mendahuluinya dengan cepat keluar tubuh. Kita akan mengenal udara ini pada tempatnya yang asli sebelum sejumlah darinya masuk ke dalam paru-paru.
Peredaran Besar
            Makanan berjalan bersebelahan dengan oksigen. Makanan larut dalam cairan darah (plasma) dan oksigen di bawa ke “kotak-kotak” sel darah merah. Kapiler-kapiler membawa keduanya menuju setiap jaringan, kelenjar, dan sel.
Perlindungan
….. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu ….. (QS An-Naml: 88)
            Fenomena dalam tubuh, seperti mata tidak akan salah melihat karena mempunyai kesempurnaan susunan dan kejadian serta kecakapannya dalam melakukan pekerjaannya. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kukuh tiap-tiap sesuatu. Kesempurnaan dalam sisi anatomi dan tugas inilah yang mengurangi keracunan-keracunan yang mungkin terjadi.

Sisi Sadar

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS At-Tin: 4)
            Yang pertama kali tampak pada diri manusia adalah organ-organ kehendaknya. “Sisi dimensi kehendak” dalam hal ini adalah organ penerima (atau indra) dan organ motorik (tulang dan otot) karena organ-organ itu relatif tunduk pada kehendak manusia. Organ-organ kehendak yang tampak pada penglihatan kita, selain sebagai keindahan dan kesempurnaan tubuh manusia, juga merupakan poros perilaku kehendakna.
            Akal sebagai pangkal kelebihan manusia dari segi peradaban tidak dapat memainkan perannya jika tidak ditopang oleh bentuk-sempurna-tubuh manusia dengan organ-organnya yang patuh menerima perintah akal. Semua bentuk penundukan yang dilakukan manusia di muka bumi ini kembali pada akal dan bentuk tubuh yang sempurna secara bersamaan. Di dunia hewan terdapat medan yang luas untuk penelitian perbandingan yang diserukan oleh ayat Al-Qur’an di atas.
            Berbeda dengan organ non kehendak, organ kehendak tidak bekerja terus-menerus, tetapi kesepian dan kemampuan memfungsikannya harus mengikuti kehendak.

Tulang
            Tulang memiliki dua keistimewaan, dan keduanya dapat melakukan peran penting pada setiap pekerjaan bawah sadar. Pertama, tulang itu menegakkan tubuh dengan kekuatannya. Kekuatan ini di dapatkan dari meresapnya garam mineral dalam jaringan-jaringan dan ikatan-ikatan kuat yang mengikatnya. Kedua, tulang itu memungkinkan tubuh untuk bergerak. Hal ini disebabkan adanya persendian-persendian dan cairan kental yang memudahkan gerakan persendian. Jika bukan karena dua keistimewaan yang dimiliki tulang ini, otot tidak akan dapat berkontraksi dan beristirahat.
Otot
            Otot memilki kelebihan, yaitu kuat dan lentur. Otot ini sangat kuat sehingga pada saat mendesak, ia mampu menanggung beban sampai seribu kali beratnya. Otot lentur memungkinkannya berkontraksi dan beristirahat dalam sekian persen detik, seperti pada gerakan-gerakan cepat yang bertujuan untuk menghindarkan tubuh dari bahaya yang tiba-tiba. Kekuatan dan kelenturan terkumpul dalam otot karena sifat mengerut hanya dimiliki olehnya di dalam tubuh. Sifat mengerut ini adalah salah satu sifat yang aneh, yang tersembunyi di dalam serabut-serabut tali otot, yang darinya terbentuk sabuk-sabuk pembentuk otot.
Tangan  
            Tangan dapat bergerak disebabkan beberapa hal, antara lain tulang-tulangya yang berbeda, sendi-sendi yang ada pada bahu, sikut, dan sebagainya, pembagian ganda pada tulang yang menyebabkan salah satunya dapat berkontraksi dan yang lain beristirahat, saraf-saraf yang ada di sela-sela tangan, dan posisi umum pada bagian atas tubuh.
            Pada dasarnya, keadaan tangan itu sangat sederhana. Kesederhanaannya ini merupakan tanda yang sangat mengagumkan bagi manusia karena bertolak belakang dengan tugasnya yang besar dan banyak. Ia dapat bekerja dan merasa dalam satu waktu atau bersamaan dengan kelima jarinya. Letak ibu jari di bagian depan ke empat jarinya yang lain membuatnya mampu bekerja semaksimal mungkin.
Kaki
            Dua kaki tidak lebih sedikit penting daripada dua tangan. Keduanya tidak sekedar menahan berat badan, tetapi juga membawanya kemana pun, baik dengan cepat maupun pelan, sesuai kehendak.
            Di antara sebagian kenikmatan adalah ia selalu menyertai manusia-dan hal ini sangat mudah-agar dapat diketahui bagaimana kedua kakinya memindahkan ke setiap tempat yang dikehendaki.
            Di antara keistimewaan tubuh, ia dikuatkan dengan gerakan-gerakan, dan hal ini tidak melemahkannya. Otot-otot akan bertambah besar dengan latoihan-latihan, bahkan akan bertambah kuat. Oleh karena itu, banyak berjalan dapat menguatkan otot kaki.

SARAN
Pada kesempatan ini penulis mencoba untuk memberikan saran dari buku yang berjudul Dalil Anfus Al-Qur’an dan Embriologi (Ayat-Ayat tentang Penciptaan Manusia) )ini diantaranya :
A.  Bagi Pengarang
1)      Dalam penulisan istilah-istilah asing hendanknya di sertai penjelasanya.
2)      Jika hendak merevisi isi buku, pesan yang disampaikan haruslah lebih baik lagi dari edisi sebelumnya sehingga pembaca dan penulis merasa puas dalam mamahami isi buku tersebut.
B.  Bagi Penulis dan Pembaca
1)      Bagi penulis jika hendak mereview sebuah buku, harus mengetahui terlebih dahulu bagaimana cara mereview yang baik dan benar;
2)      Buku yang hendak di review harus banyak mengandung nilai yang mendidik dan memberikan pengetahuan luar yang bermanfaat baik secara teoritis maupun praktis;
3)      Bagi pembaca jika hendak mereview sebuah buku harus melihat dan membaca keseluruhan isi dari buku tersebut.
C.  Bagi Penerbit                  
Bagi pihak penerbit agar buku ini bisa diperbanyak dan dipublikasikan kembali karena isinya yang sangat menarik.  





KOMENTAR
Berdasarkan uraian di atas dan juga hasil pengamatan yang telah saya lakukan, dapat disimpulkan bahwa buku ini menguraikan secara detail tentang kejadian manusia, terciptanya sel, perjalanan spermatozoa menuju ovum, terbentuknya nutfah sampai bayi yang sempurna. Diterangkan pula keadaan bayi ketika lahir, masa kanak-kanak, dan dewasa. Semuanya ini dijelaskan secara ilmiah (menurut ilmu kedokteran) dan berdasarkan keterangan-keterangan Al-Qur’an tentang ilmu embriologi.
Diantara ayat-ayat yang ada dalam diri manusia adalah perkembanga  janin dalam kandungan sang ibu dan susunan sel saraf manusia. Semua ini menunjukkan kebenaran Al-Qur’an dan kekuasaan Allah, Pencipta alam semesta beserta isinya. Hanya dari setetes air mani, Allah SWT membentuk bayi menjadi sempurna wujudnya. Maha Suci Allah yang Maha Pencipta.

KELEBIHAN & KEKURANGAN
Kelebihan buku:
            Buku karangan Muhammad Izzuddin Taufiq  ini sangat kaya akan makna dan ilmu yang sangat bermanfaat, sehingga buku ini banyak sekali memiliki kelebihan diantaranya adalah:
a)      Buku ini cukup menarik untuk dibaca bagi semua kalangan.
b)      Setiap Bab di lengkapi dengan ayat Al-Qur’an.
Kelemahan buku:
Walau buku ini memiliki banyak sekali kelebihan, namun masih ada kekurangan diantaranya adalah:
a)      Banyak bahasa  dan istilah asing yang terdapat dalam buku ini, namun tidak disertai dengan penjelasan sehingga pembaca kadang merasa kesulitan untuk mencerna maksud dari beberapa kalimat.
b)      Menggunakan bahasa yang terlalu tinggi sehingga pembaca sedikit kesulitan dalam memahami isi buku tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar